Tag: alfikri

  • Psikologi Perkembangan Pada Anak

    Psikologi Perkembangan Pada Anak

    Perlu sekali Bagi Orang Tua untuk belajar mengenai Psikologi Perkembangan Pada Anak sehingga orang tua dapat memahami perkembangan anak-anak sesuai umurnya.

    Perkembangan kognitif pada anak merupakan perubahan pada kemampuan pemikiran, intelegensi, dan bahasa individual untuk memahami berbagai obyek. kemampuan ini sangat penting bagi anak karena untuk penyesuaian pribadi dan sosial anak pada lingkungan jika anak memiliki pengertian dan pemahaman tentang obyek yang di lihatnya. Seperti manusia, hewan, benda, atau peristiwa. Memandang benda yang berwarna yang berayun-ayun di atas tempat tidur bayi, merangkai satu kalimat yang terdiri atas dua kata, menghafal syair, membayangkan seperti apa rasanya menjadi bintang film, dan memecahkan suatu teka teki silang semuanya mencerminkan peran proses-proses kognitif dalam perkembangan dalam keterampilan-keterampilan motorik dan bahasa. ( Bassuk, 1991; Raffery dan Shin, 1991).

     Perkembangan kemampuan dan pemahaman anak dapat diperoleh dari hasil kematangan intelektual dan dari pengetahuan yang diperoleh oleh anak yang cukup panjang. dan kemampuan untuk memahami dan mengerti mengandung proses berfikir. Dalam tahapan berfikir yang dikemukakan oleh jean peaget meliputi; tahapan sensori motorik (usia sekitar lahir sampai 2 tahun), tahap praoperasioanal (usia 2-7 tahun), dan tahapan operasi kongret (usia 7-12 tahun).

    Diatas disebutkan bahwa perkembangan kognitif pada anak juga mencangkup kemampuan bahasa pada perkembangan anak. Ternyata perkembangan kemampuan bahasa pada anak tidaklah sama, ada yang sudah bisa mengucapkan kata-kata dan tetapi juga ada anak yang mengalami keterlambatan berbicara dan bahkan belum bisa mengoceh. Padahal pada umumnya anak sudah bisa mengoceh pada usia 10 bulan dan berbicara pada usia 18 bulan, meskipun hanya bisa mengucapkan kata “papa” atau “mama”.

    Nah apa itu gangguan bahasa dan berbicara? Gangguan bahasa atau berbicara adalah keterlambatan berbicara pada anak yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Keterlambatan bahasa pada anak ini terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.

    Ada beberapa gangguan bahasa dalam Faktor internal, yaitu; pertama: Gangguan keturunan, gangguan ini timbul karena retardasi mental, ketulian, gangguan saraf, cacat lidah, gigi, bibir, langit-langit dan anak lidah dan terkadang juga dikarenakan ganguuan perkembangan bicara sepeti gagap dan gangguan saraf-saraf motorik. Kedua, gangguan pendengaran, gangguan ini terjadi karena disebabkan adanya infeksi telinga. Jika anak mengalami gangguan ini anak akan mengalami hambatan dalam memahami, meniru, menggunakan bahasa dan anak biasanya tidak akan memberikan respons terhadap bunyi-bunyian yang ada disekitarnya. Ketiga, ganguan kejiwaan atau autisme, pada gangguan ini anak perlu latihan stimulasi kontak dengan matanya, karena anak autisme tidak mau melakukan kontak mata dengan lawan bicara. Keempat, anak akan mengalami hambatan dalam bahasa karena  diakibatkan penyakit atau infeksi pada otak, aliran darah ke otak dan kelumpuhan saraf yang menggerakkan otot bicara.

    Sedangkan faktor eksternal atau lingkungan terjadi karena anak terasingkan dari lingkunganya dan diperlakukan dengan sengaja (sebagai eksperimen) dan bisa juga hidup bukan pada alam manusia, seperti di hutan yang jauh dari peradaban manusia. Dan selain itu ada beberapa macam gangguan bahasa pada anak, yaitu; pertama, Afasia adalah gangguan bahasa pada anak karena kehilangan kemampuan membentuk kata-kata atau menangkap arti kata-kata sehingga pembicaraan tidak dapat brlangsung dengan baik, kedua; Gagap adalah gangguan kelancaran berbicara atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara.

    Gangguan berbahasa atau keterlambatan berbicara pada anak dapat diketahui apabila anak sudah berusia 10 bulan sampai 2 tahun anak masih belum bisa mengatakan kata-kata yang mudah seperti “Ibu” atau “Bapak”. Gangguan ini terjadi karena faktor internal dan kesternal seperti keturunan atau lingkungan anak itu sendiri. Jika anak mengalami ganguan berbahasa peran orang tua sangat penting, orang tua harus mengikuti dan mengetahui perkembangan anaknya karena jika anak mengalami keterlambatan berbahasa atau pertumbuhan fisik bisa ditangani dengan cepat.

  • Ternyata Syafaat Rasulullah Saw. Tidak Gratis (2 – Habis)

    Ternyata Syafaat Rasulullah Saw. Tidak Gratis (2 – Habis)

    Setelah memberi penegasan bahwa syafaat Rasulullah saw. itu tidak gratis dan harus ditebus dengan memperbanyak sujud semasa di dunia, Mas Yai kemudian mengkaji hadis yang diriwiyatkan HR. Al-Bukhari dan Muslim.

    Mas Yai menggambarkan kondisi umat manusia dari zaman Nabi Adam as. hingga akhir zaman yang berkumpul menjadi satu di tempat yang luas. Tempat itu disebut dengan padang mashyar. Betapa beratnya penderitaan umat manusia saat itu. Mereka mencari-cari bantuan yang bisa menyelamatkan mereka dari kegetiran hari akhir itu.

    Kemudian Mas Yai mengkaji kitab Shohih Muslim hadis ke 193 tentang syafaat Rasulullah saw.

    “Dikumpulkanlah seluruh manusia dalam sebuah pelataran luas, mulai manusia pertama hingga yang terakhir. Mereka terdengar oleh siapa pun yang memanggil dan terlihat oleh siapa pun yang memandang. Matahari begitu dekat hingga mereka tak sanggup lagi menanggung penderitaan dan kepedihan.

    Mereka bertanya, “Apakah kalian tidak melihat apa yang tengah kalian alami? Apakah kalian tidak melihat sosok yang bisa meminta syafaat (pertolongan) kepada Tuhan untuk kalian?” Sebagian menjawab, “Kalian harus mendatangi Adam.”

    Mereka pun berbondong-bondong menuju Adam as. Kepadanya mereka memohon, “Engkau adalah Abu al-Basyar. Diciptakan Allah langsung dengan tangan-Nya. Ruh-Nya ditiupkan kepadamu. Malaikat diperintah sujud kepadamu. Maka mintalah syafaat kepada Tuhan untuk kami. Apakah engkau tidak melihat keadaan kami? Apakah engkau tidak melihat apa yang tengah kami alami?”

    Adam menjawab, “Hari ini, Tuhanku pun murka kepadaku, murka yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak akan pernah murka setelahnya. Dia melarangku mendekati pohon tapi aku melanggarnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah kalian kepada selainku. Coba temuilah Nuh ‘alaihissalam.”

    Akhirnya, mereka berbondong-bondong menuju Nabi Nuh, tapi beliau pun angkat tangan. Tidak bisa memintakan pertolongan kepada Allah. Demikian pula saat menemui Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Para nabi itu tak bisa meminta pertolongan kepada Allah swt. Sebab mereka malu atas dosa dan kesalahan yang pernah mereka alami tatkala masih hidup di dunia. Hingga terakhir mereka diarahkan kepada nabi terakhir, Rasulullah saw.

    Kali ini, mereka menemui Rasulullah saw. dan menyampaikan, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang akan datang dan yang telah lalu. Mohonlah pertolongan kepada Tuhan untuk kami. Tidakkah engkau melihat apa yang tengah menimpa kami?”

    Nabi saw. bersabda, “Aku pun pergi menuju bawah ‘Arasy. Di sana aku bersujud pada Tuhanku. Lalu Allah membukakan kebaikan-kebaikan-Nya kepadaku, yang belum pernah dibukakan kepada seorang pun sebelumku. Setelah itu, terdengarlah seruan, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah engkau, niscaya diberi. Mintalah pertolongan, niscaya dipenuhi.’ Aku mengangkat kepala dan berkata, ‘Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan.’ Terdengar lagi ada yang bicara, ‘Wahai Muhamad, masukkanlah umatmu dari golongan hamba yang tidak dihisab ke dalam surga melalui pintu sebelah kanan. Namun sekelompok mereka masuk dari selain puntu itu” (HR al-Bukhari dan Muslim).Mas Yai bertanya kepda jamaah yang hadir. “Ketika Rasulullah saw. memohon pertolongan Allah swt. untuk umat beliau, apa yang beliau lakukan?”

    “Sujud… (salat).” jawab jamaah serempak.

    “Jadi sudah sangat jelas dan gamblang, bahwa syafaat Rasulullah saw. tidak bisa kita dapatkan dengan cara yang gratis. Tetapi harus memperbanyak bersujud kepada Allah swt.,” tegasnya.

    Wallahu a’lam bisshowaf.

    Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Setitik ilmu yang terdapat di dalam artikel ini, sudah saya mintakan rida dan tashih dari Kiai Mahrus. Biidznillah, beliau telah rida dengan ilmu yang saya dapatkan ini. Barokallah.

    Simorejo, 5 Juni 2022

    Oleh:
    Slamet Widodo, S.Pd.
    Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro