Suatu ketika seorang kyai sempat kecewa dengan beberapa santri yang kerap melanggar aturan pondok. “Anak-anak para santriku, hindari perilaku yang tidak mencerminkan akhlak seorang santri,” dawuh sang kyai. “Jangan berharap mendapat titipan ilmu jika aturan pondok sering kamu langgar, jangan berharap memperoleh ilmu yang bermanfaat jika kyai dan guru tidak ridho karena perilakumu,” lanjut kyai yang dikenal alim dan sabar ini.
“Anak-anakku para santri, mungkin kamu tidak pernah melukai fisik orang tuamu, tapi ketahuilah nak, bahwa kasus perilaku santri yang berujung pada pemanggilan wali santri itu lebih menyakitkan dari tamparan ke muka orang tua, saat para santri ada pelanggaran di sekolah sejatinya juga telah menampar ustadz dan para pembimbingnya. Jika dengan menampar mukaku lantas kamu sadar dan menjadi anak yang sholeh, lakukan nak, aku ikhlas…” pungkas sang kyai sambil menetes air mata, lantas mengakhiri nasehatnya. Suasana hening, seluruh santri terdiam.
Pertanyaan ini perlu dicari penyebabnya sehingga kita bisa mencari solusi dan menyikapinya secara tepat. Sejatinya masalah peserta didik ngantuk tidak hanya dialami anak yang mukim di pondok. Ketika para santri cenderung suka ngantuk saat pembelajaran di kelas, hal itu lebih karena banyaknya kegiatan santri di pesantrennya. Mulai sholat yang selalu berjamaah dan mengaji yang berlangsung 2 – 3 kali dalam sehari. Belum lagi kegiatan mingguan ataupun bulanan yang harus diikuti.
Dan yang perlu diingat, santri dalam beraktivitas dikondisikan mandiri. Berbeda dengan anak yang tidak mukim di pondok. Mereka umumnya masih bergantung pada orang tuanya. Dengan padatnya aktivitas santri tentunya sedikit banyak berpengaruh saat pembelajaran di kelas. Solusinya bagaimana guru menyampaikan pembelajaran yang menarik dan membuat komitmen pada anak-anak bahwa selama pembelajaran jika ada yang mengantuk harus siap dengan konsekuensi hukuman yang mendidik.
Yang juga perlu kita renungkan adalah penyebab ngantuk anak yang mondok dan tidak mondok. Jika anak yang tidak mondok sering ngantuk di kelas biasanya suka begadang sampai larut malam. Kalau anak mondok ada kecenderungan ngantuk saat pembelajaran umumnya karena kegiatan positif yang dilakukannya. Rutinitas sholat berjamaah, mengaji, menghafal dan aktivitas positif lainnya yang harus dipatuhi. Pilih mana??
Pesmad News. Melihat hasil kompetisi tajwid & nahwu santri di internal Pesmad Darul Fikri MTsN 3 Bojonegoro kemaren (14/8/2022), nampak sekali dominasi prestasi santri putri dibanding santri putra. Hampir dalam prestasi apapun santri putra belum bisa mengejar santri putri. Dari 20 besar nilai terbaik, yang putra hanya 6 santri. Bahkan 5 terbaik disapu bersih para santriwati.
Bermodal kesabaran, ketelatenan dan keuletan, santriwati akan mampu berbicara banyak di berbagai bidang keilmuan. Sejatinya santri putra memiliki potensi yang tidak kalah hebatnya. Namun dari sisi kesabaran dan ketelatenan lemah, selamanya akan sulit mengejar ketertinggalannya.
Selaku pengelola dan pembimbing anak-anak, tidak kurang-kurang nya kita terus mendorong agar para santri putra mampu melejitkan potensinya, sehingga tidak selalu kalah dari santri putri.
Ma’had news Dakwah dalam benak dan pikiran kita adalah ceramah di depan jamaah. Padahal sejatinya dakwah bisa bermakna luas. Dalam arti luas dakwah bisa dengan lesan, tulisan dan sikap/perilaku. Dakwah dengan lesan biasanya dilakukan oleh seseorang yang agak terbatas jumlahnya. Karena tidak setiap orang mempunyai nyali dan keterampilan berbicara didepan umum.
Begitu pula dakwah dengan tulisan. Sedikit sekali yang memiliki hoby tulis menulis. Sebuah gambaran, dalam satu kelas kadang tidak ada anak yang punya kesenangan pada dunia jurnalistik ini. Padahal dengan tulisan, kita bisa menyampaikan informasi, pesan moral/dakwah dan lainnya.
Ada hal yang menggembirakan dari sebagian santri yang mondok di pesantren madrasah Darul Fikri MTsN 3 Bojonegoro saat liburan. Secara tidak langsung para santri telah berdakwah menarik simpati orang-orang di sekitarnya. Dakwah yang di lakukan termasuk jenis dakwah bil haal, yakni dakwah dengan perilaku.
Tidak sedikit dari para santri saat di rumah akrab dengan masjid. Sering adzan, ngaji mandiri dan membantu orang tua di rumah. Sehingga tetangga dan masyarakat terkesan dan bersimpati. Karena perilaku seperti itulah tidak sedikit diantara wali murid menyekolahkan dan memasukkan pondok dimana santri tersebut sekolah dan mondok. (mud)
Dalam perjalanannya tidak sedikit pada sebuah lembaga terjadi fluktuasi kwalitas. Maksudnya, pada masa tertentu sebuah lembaga kondisinya bagus, tetapi pada masa yang lain terjadi penurunan. Baik tidaknya sebuah lembaga secara kasat mata bisa dilihat dari beberapa hal.
Diantara beberapa hal yang menjadi parameter bagus tidaknya lembaga antara lain :
Sistem manajemen yang baik dan benar
Animo (daya tarik) masyarakat menguat
Ada prestasi lembaga dari berbagai kompetisi
Legal formal lembaga diakui/terakreditasi
Untuk jenis lembaga pesantren madrasah di wilayah Bojonegoro, ma’had/pesantren madrasah Darul Fikri MTsN 3 Bojonegoro terbilang baik dari sisi animo masyarakat. Daya tarik wali murid untuk mendaftarkan anaknya ke lembaga ini tergolong tinggi. Hal ini bisa dilihat dari sisi pendaftaran santri. Tahun ini setelah masa pendaftaran dibuka, sebanyak 40 santri baru telah menyerahkan formulir, sementara yang tamat/keluar hanya 11 santri.
Begitu tingginya lonjakan jumlah peminat pada lembaga ini sehingga pengelola mempersiapkan akomodasi dan segala sesuatunya sejak dini. Hal ini manjadi salah satu bukti bahwa sistem pengelolaannya tergolong baik. Dan pengelolaan yang baik tidak lepas dari kebersamaan kompaknya para pengelola dalam memajukan lembaga. (mud)
Kegiatan tasyakuran dan pelepasan santri kelas akhir pesantren madrasah Sabtu malam (18/6/2022) berlangsung lancar dan khidmat. Acara yang menjadi agenda tahunan ini dihadiri unsur pimpinan lembaga MTsN 3 Bojonegoro, Pengelola/pengasuh, pengurus paguyuban wali santri, wali santri, guru, ustadz/ah dan seluruh santri. “Sebagai santri hendaknya menghindarkan diri dari maksiat,” demikian diantara pesan ustadz M. Wahib, S.Pd.I selaku pengasuh mengutip beberapa etika santri dalam kitab Ta’lim.
Pesantren madrasah yang yang berlokasi di jalan Budi utomo Kepohbaru ini mulai menjadi ‘magnet’ tersendiri bagi calon santri dan wali santri. Keberadaan dan kemajuan ma’had MTsN 3 Bojonegoro yang berlokasi di pusat ibukota kecamatan Kepohbaru ini tidak lepas dari peran semua pihak, lebih-lebih ustadz Wahib selaku pengasuh. “Saya selaku pimpinan di MTsN 3 berterimakasih yang setinggi tingginya kepada semua pihak, terutama kepada ustad Wahib dan bu ustadz atas kesabaran dan istiqomahnya dalam membimbing para santri hingga ada yang hafal beberapa juz, bahkan ada yang memasuki 7 juz,” kata H. Juki, kepala madrasah. “Dengan mengucap alhamdulillahi robbil alamin, para santri kelas akhir kita serahkan kembali kepada bapak/ibu wali santri, dulu diserahkan utuh dan sekarang juga utuh. Bahkan bertambah ilmu” ujar H. Juki mengakhiri kata sambutan.
“Mewakili wali 11 santri yang akan pamit, saya menyampaikan banyak terima kasih kepada unsur pimpinan ma’had Darul Fikri maupun MTsN 3 Bojonegoro atas bimbingan dan arahannya, khususnya kegiatan jamaah sholat, mengaji & menghafal quran pada anak-anak kami selama 3 tahun,” demikian ungkap Pak Rokhim, panggilan sehari-hari pensiunan TNI AD, salah satu wali santri. “Alhamdulillah, selama ini kerja sama wali santri, pengasuh dan pengelola pesantren dapat berjalan dengan baik, ke depan harus lebih baik lagi demi anak-anak kita yang menimba ilmu di sini,” demikian diantara sambutan Pak Agus selau ketua paguyuban wali santri ma’had Darul Fikri. Pak Agus yang rumahnya Modo Lamongan ini memang nampak giat dan semangat dalam membantu kemajuan ma’had.
Pada penghujung acara, tangis haru para santri dan orang tua pecah, mewarnai suasana acara sungkem. “Minta maaf dan minta ridho bapak ibu nak.., sepandai apapun kita akan sia-sia jika tanpa ada ridho dari orang tua, berani durhaka pada orang tua berarti siap sengsara di dunia lebih-lebih kelak di akherat ” tegas ustadz Wahib.mengiringi acara sungkem. Sebelum acara ditutup dengan doa, belasan tumpeng dari para wali santri disiapkan, sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya belajar jenjang MTs. Sesuai dengan penjelasan kepala madrasah, meski yang keluar/tamat 11 santri, tetapi santri baru 30 lebih telah mendaftar. Dan kegiatan pelepasan santri kelas akhir yang dipersiapkan sejak dua pekan yang lalu dapat berjalan dengan tertib, lancar dibawah kendali Abdullah Robbani dan Ahdan Darunnaja, santri kelas 7 selaku pembawa acara. (mud)
Beberapa hari yang lalu (15/5/2022) para santri diajak rihlah & silaturrohim ke rumah Ustad Suwanto kecamatan Bubulan Bojonegoro. Jarak yang lumayan jauh memakan waktu sekitar 1 jam. Meski jauh, anak-anak terlihat ceria dan gembira karena moment seperti ini sering ditunggu anak-anak untuk refreshing menghilangkan kejenuhan.
“Sebagaimana kita ketahui, setiap hari anak-anak berkutat pada kegiatan yang padat. Mulai belajar, mengaji, menghafal, sekolah dan lain-lain, ” terang H. Juki, kepala madrasah. “Ada banyak manfaat yang bisa kita petik dari kegiatan rihlah ini. Pembiasaan silaturrohmi, toleransi, kerja sama dan mensyukuri anugerah Allah berupa pemandangan alam yang subur,” tambah Ust Wahib selaku pengasuh pesantren madrasah MTsN 3 Bojonegoro.
Semangat Belajar Terus Membara Meski Libur
Setelah silaturrohim di Bubulan dengan berbagai jamuan dari Ust Suwanto dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan menuju destinasi wisata alam Kayangan Api. Keceriaan anak-anak begitu nampak saat memasuki kawasan wisata yang ada di tengah hutan ini. Nampak kekaguman anak-anak pada destinasi wisata api abadi yang pernah menjadi pengambilan api PON (Pekan Olah raga Nasional) ke XV di Surabaya Jatim tahun 2000 ini.
Setelah puas menikmati wisata alam di wilayah kecamatan Dander ini, perjalanan dilanjutkan ke kawasan kota. Mulusnya jalan raya di daerah Bojonegoro membuat perjalanan kegiatan ini lancar, nyaman dan menyenangkan. Di kawasan kota anak-anak diajak ke destinasi wisata belanja & kuliner. Dengan datang di pertokoan modern KDS yang ada di jalan Veteran ini kita bisa melihat-lihat & belanja barang kebutuhan sehari – hari dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Mulai kebutuhan balita, anak-anak sekolah, orang dewasa dan perkantoran.
Anak-anak kelas 9, khususnya santri Pesantren madrasah MTsN 3 Bojonegoro, meski libur sekolah tapi spirit belajarnya tetep membara luar biasa. Tidak banyak anak yang punya semangat demikian. Jika lebih banyak generasi yang cinta dan gandrung dengan ilmu pengetahuan, kita tidak perlu risau dengan masa depannya.
Semoga para santri dan semua siswa dimudahkan dalam mencari ilmu dan memiliki skil dalam mengarungi kehidupan di masa mendatang. (mud)