Tag: islami

  • Ternyata Syafaat Rasulullah Saw. Tidak Gratis (2 – Habis)

    Ternyata Syafaat Rasulullah Saw. Tidak Gratis (2 – Habis)

    Setelah memberi penegasan bahwa syafaat Rasulullah saw. itu tidak gratis dan harus ditebus dengan memperbanyak sujud semasa di dunia, Mas Yai kemudian mengkaji hadis yang diriwiyatkan HR. Al-Bukhari dan Muslim.

    Mas Yai menggambarkan kondisi umat manusia dari zaman Nabi Adam as. hingga akhir zaman yang berkumpul menjadi satu di tempat yang luas. Tempat itu disebut dengan padang mashyar. Betapa beratnya penderitaan umat manusia saat itu. Mereka mencari-cari bantuan yang bisa menyelamatkan mereka dari kegetiran hari akhir itu.

    Kemudian Mas Yai mengkaji kitab Shohih Muslim hadis ke 193 tentang syafaat Rasulullah saw.

    “Dikumpulkanlah seluruh manusia dalam sebuah pelataran luas, mulai manusia pertama hingga yang terakhir. Mereka terdengar oleh siapa pun yang memanggil dan terlihat oleh siapa pun yang memandang. Matahari begitu dekat hingga mereka tak sanggup lagi menanggung penderitaan dan kepedihan.

    Mereka bertanya, “Apakah kalian tidak melihat apa yang tengah kalian alami? Apakah kalian tidak melihat sosok yang bisa meminta syafaat (pertolongan) kepada Tuhan untuk kalian?” Sebagian menjawab, “Kalian harus mendatangi Adam.”

    Mereka pun berbondong-bondong menuju Adam as. Kepadanya mereka memohon, “Engkau adalah Abu al-Basyar. Diciptakan Allah langsung dengan tangan-Nya. Ruh-Nya ditiupkan kepadamu. Malaikat diperintah sujud kepadamu. Maka mintalah syafaat kepada Tuhan untuk kami. Apakah engkau tidak melihat keadaan kami? Apakah engkau tidak melihat apa yang tengah kami alami?”

    Adam menjawab, “Hari ini, Tuhanku pun murka kepadaku, murka yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak akan pernah murka setelahnya. Dia melarangku mendekati pohon tapi aku melanggarnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah kalian kepada selainku. Coba temuilah Nuh ‘alaihissalam.”

    Akhirnya, mereka berbondong-bondong menuju Nabi Nuh, tapi beliau pun angkat tangan. Tidak bisa memintakan pertolongan kepada Allah. Demikian pula saat menemui Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Para nabi itu tak bisa meminta pertolongan kepada Allah swt. Sebab mereka malu atas dosa dan kesalahan yang pernah mereka alami tatkala masih hidup di dunia. Hingga terakhir mereka diarahkan kepada nabi terakhir, Rasulullah saw.

    Kali ini, mereka menemui Rasulullah saw. dan menyampaikan, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang akan datang dan yang telah lalu. Mohonlah pertolongan kepada Tuhan untuk kami. Tidakkah engkau melihat apa yang tengah menimpa kami?”

    Nabi saw. bersabda, “Aku pun pergi menuju bawah ‘Arasy. Di sana aku bersujud pada Tuhanku. Lalu Allah membukakan kebaikan-kebaikan-Nya kepadaku, yang belum pernah dibukakan kepada seorang pun sebelumku. Setelah itu, terdengarlah seruan, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah engkau, niscaya diberi. Mintalah pertolongan, niscaya dipenuhi.’ Aku mengangkat kepala dan berkata, ‘Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan. Umatku, ya Tuhan.’ Terdengar lagi ada yang bicara, ‘Wahai Muhamad, masukkanlah umatmu dari golongan hamba yang tidak dihisab ke dalam surga melalui pintu sebelah kanan. Namun sekelompok mereka masuk dari selain puntu itu” (HR al-Bukhari dan Muslim).Mas Yai bertanya kepda jamaah yang hadir. “Ketika Rasulullah saw. memohon pertolongan Allah swt. untuk umat beliau, apa yang beliau lakukan?”

    “Sujud… (salat).” jawab jamaah serempak.

    “Jadi sudah sangat jelas dan gamblang, bahwa syafaat Rasulullah saw. tidak bisa kita dapatkan dengan cara yang gratis. Tetapi harus memperbanyak bersujud kepada Allah swt.,” tegasnya.

    Wallahu a’lam bisshowaf.

    Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Setitik ilmu yang terdapat di dalam artikel ini, sudah saya mintakan rida dan tashih dari Kiai Mahrus. Biidznillah, beliau telah rida dengan ilmu yang saya dapatkan ini. Barokallah.

    Simorejo, 5 Juni 2022

    Oleh:
    Slamet Widodo, S.Pd.
    Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

  • Ternyata Syafaat Rasulullah Saw. Tidak Gratis (1)

    Ternyata Syafaat Rasulullah Saw. Tidak Gratis (1)

    Satu ilmu bertambah, tatkala seseorang mau duduk satu majelis bersama ulama. Selain itu, juga menjadi obat hati.

    Ustaz Yusuf Nahrowi, Jipo, mengatakan, duduk di hadapan ulama (mengaji) menjadi salah satu sarana untuk mendapatkan sanad keilmuan. Sebab mendapatkan sanad ilmu (agama) itu sangat penting, supaya ilmu yang didapat menjadi berkah.

    Biidznillah, Jumat malam (3/6/2021) saya dan sahabat Suraji, mewakili Ranting Simorejo, berkesempatan menghadiri majelisnya Kiai Mahrus Brangkal. Dalam acara Majelis Dzikir dan Selawat (MDS) Rijalul Ansor, Gerakan Pemuda Ansor Ranting Brangkal yang dilaksanakan di salah satu musala dusun setempat.

    Pada kesempatan tersebut, Kiai Mahrus mengkaji kitab Shohih Muslim hadis ke 193 tentang syafaat Rasulullah saw.

    Mas Yai, panggilan akrab Kiai Muda ini menjelaskan, bahwa satu-satunya nabi dan rasul yang bisa memberi syafaat (pertolongan) kepada umatnya hanya Rasulullah saw. Namun syafaat itu tidak diberikan secara gratis. Lah kok bisa begitu?

    Mas Yai menceritakan kisah tentang pembantu (khodim) Rasulullah saw. Berikut kisahnya:

    Kyai-Mahrus-Kepala-TU-MTsN-3-Bojonegoro-Saat-Mengisi-Materi-Keislaman
    Kyai Mahrus, Kepala TU MTsN 3 Bojonegoro Saat Mengisi Materi Keislaman

    Ada seorang pembantu Rasulullah saw. yang bernama Rabi’ah bin Ka’ab. Selama 7 tahun dia selalu mengambilkan air wudhu’ untuk beliau.

    Dia pernah berkisah, Suatu hari, Rasulullah saw berkata kepadaku., “Wahai Robi’ah, engkau telah berkhidmat kepadaku selama 7 tahun. Tidakkah engkau ingin meminta sesuatu dariku?”

    Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, berilah aku waktu untuk berpikir.”

    Keesokan harinya, ketika aku masuk ke rumah Rasulullah, beliau berkata, “Wahai Robi’ah, sebutkan permintaanmu!”

    Kemudian aku berkata, “Mintalah kepada Allah agar memasukkan aku kedalam surga bersamamu.” Rasul bertanya, “Siapa yang mengajarimu?”

    Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang mengajariku. Tapi aku berpikir, jika aku meminta harta maka harta itu akan habis. Jika aku meminta umur yang panjang dan meminta banyak anak maka akhir dari semua itu adalah kematian.”

    Kemudian Rasulullah menundukkan kepalanya sesaat dan bersabda, “Aku akan melakukan apa yang kau minta, (tapi) bantulah aku (untuk mewujudkan keinginanmu ini) dengan banyak bersujud.”

    Mas Yai menjelaskan, dari kisah tersebut di atas, kesimpulannya terdapat di akhir cerita. Ternyata, untuk mendapatkan syafaat Rasulullah saw. maka seorang hamba harus memperbanyak bersujud kepada Allah Swt. (salat).

    Bersambung…

    Simorejo, 4 Juni 2022

    Oleh:
    Slamet Widodo, S.Pd.
    Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

  • Gapailah Derajat dan Ubahlah Dunia dengan Ilmu

    Gapailah Derajat dan Ubahlah Dunia dengan Ilmu

    Sehari sebelum kembalinya Zahro (anak pertama kami) ke ma’had. Di satu siang, kami (Bapak mertua, saya, istri saya, Zahro dan Azim) berkumpul, duduk lesehan di ruang tamu. Zahro dan ibunya menyiapkan barang-barang buat bekal untuk dibawa balik ke ma’had. Sementara saya menemani Azim bermain.

    Di dalam obrolan tersebut, Bapak mertua (kakeknya Zahro) menyampaikan sebuah pengalaman yang beliau alami sendiri di waktu muda. Cerita itu bertujuan untuk memberi memotivasi kepada Zahro supaya semangat dalam belajar.

    “Dulu, sewaktu masih kecil, Kakek sempat belajar mengaji di masjid dekat rumah bersama teman-teman sebaya,” cerita beliau mengenang masa lalu.

    Kami semua mendengarkan dengan antusias.

    Gapailah Derajat dan Ubahlah Dunia dengan Ilmu
    Gapailah Derajat dan Ubahlah Dunia dengan Ilmu

    “Selain mengaji juga sekolah. Setelah SD, kakek tidak lagi sekolah. Tetapi dilanjutkan mengembala sapi di rumah tetangga. Hal itu, selain karena banyaknya saudara yang masih kecil-kecil juga karena ketidak mampuan orang tua kakek.”

    “Hal yang sama juga dialami oleh teman-teman kakek lainnya. Sementara itu, ada salah satu teman kakek yang lebih beruntung disbanding kami. Walaupun sama-sama berasal dari orang tua yang kurang mampu, namun ia dapat meneruskan pendidikannya ke jenjajang yang lebih tinggi, hingga kuliah. Sebab, ia mendapat dukungan dari saudara-saudaranya.”

    “Hasilnya saat ini, sudah tampak sangat jelas. Kakek yang kala itu berangkat bekerja, hasilnya sekarang: kaya, belum tentu. Bodoh, sudah pasti.”

    “Sementara itu, teman kakek yang kala itu berangkat belajar, hasilnya sekarang: Sudah berilmu, menjadi orang yang terpandang dan sudah pasti, kaya.”

    Fix, melihat pengalaman tersebut di atas, dawuh Allah SWT. tak dapat diragukan lagi. Pasti benar adanya. Allah Swt pasti mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Derajat di dunia dan di akhirat.

    “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. al-Mujadalah : 11)

    Saya teringat pesan Abah Ma’shum Alief, Pembina Jamaah Istighatsah “Asmaul Haq” Kedungpring Lamongan kepada santri.

    “Belajarlah! Namun dalam proses belajar jangan pernah sekalipun berharap nantinya ingin menjadi ini dan itu. Jalani dengan ihlas. Biarkan ilmu yang kalian dapat itu yang memantaskanmu ditempatkan di mana dan menjadi apa.”

    Kepohbaru, 24 Mei 2022

    Oleh: Slamet Widodo
    Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro